“ARAJANG”

Di dalam ruangan sempit tempat penyimpanan benda – benda bersejarah, diadakan ritual dengan diawali pembacaan sejumlah mantra dari pimpinan bissu. Lalu bergumpallah asap berwarna putih mengitari ruangan tersebut. Dua buah parang lalu diberikan oleh salah seorang bissu kepada pimpinannnya. Suara yang melengking keluar. Selain suaranya yang sangat melengking itu, Bissu itu juga menggunaan bahasa bugis yang artinya juga kurang bisa di mengerti.kemungkinan bahasa yang diucapkan oleh Bissu itu adalah bahasa bugis kuno. Sambil teerdengar suara iringan musik gendang, kecapi dan seruling dari sejumlah pemangku adat. Sementara bissu lainnya yang terlibat dalam ritual ini bertugas memukul-mukul sejumlah peralatan yang bisa mengeluarkan bunyi. Tapi anehnya, suara tersebut mengikuti irama mantra-mantra yang diucapkan pimpinan bissu.

Usai membuka ritual ini, para bissu kemudian masuk ke dalam ruangan dan seolah-olah bertapa. Di dalam ruangan itu terdapat sebuah benda yang tergantung di langit – langit ruangan itu. Di dalam ruangan itu, pimpinan Bissu mengambil posisi duduk paling depan. Posisinya duduk bertungku satu kaki. Sementara tangan kirinya memegang sebuah parang. Kalimat-kalimat atau bahasa yang yang tidak jelas artinya di ucapkan kembali oleh Bissu itu. Lalu diikuti suara bissu lainnya. Suaranya pun, diawali suara kecil dan lama ke lamaan besar lalu mengeluarkan suara lengkingan. Kegiatan tersebut oleh kalangan Bissu dikatakan sebagai salah satu ritual meminta izin kepada leluhur agar benda yang dianggap bersejarah itu dapat diturunkan. Katanya, pamali jika tidak dilakukan ritual seperti ini. Dan akhirnya, benda yang terbungkus kain putih dan tergantung di langit – langit ruangan itu pun lalu diturunkan.

Tujuh pemangku adat bersama sejumlah bissu terlihat sangat sibuk membopong benda yang dibungkus kain putih tersebut. Panjangnya sekitar tiga meter. Tak lama kemudian kain putih pun disibakan. Lalu terlihatlah oleh sebuah kayu tua yang cukup besar. Ternyata benda yang dibopong keluar itu adalah bajak sawah. Bajak yang dipakai oleh orang – orang saat akan turun ke sawah. Orang bugis mengistilahkan Tekko”. Benda ini katanya sudah berumur ratusan tahun atau sekitar tahun 1770an silam. Dan setiap tahun selalu diadakan ritual pencucian benda bersejarah ini. Setelah kain dilepas, satu persatu para bissu memandikan alat pembajak sawah ini atau orang bissu mengatakan Arajang. Puncak acara ini adalah mengarak keliling arajang ke kampung-kampung. Itulah mengapa disebut ritual mappasili atau sebagai tanda petani sudah harus mulai turun ke sawahnya untuk membajak sawah. Pantas saja, saat setelah alat bajak yang terbuat dari kayu ini dimandikan-lalu dibungku daun pisang dan dikelilingi tumpukan padi yang dalam berbagai ikatan. Orang Bugis menyebutnya balesse.

“Keunikan Bissu”

Jenis Bissu ini sering disalah artikan oleh sebagian besar masyarakat. Mereka dianggap identik sebagai calabai yaitu seorang laki – laki yang berpenampilan layaknya seorang perempuan walau peran dan kedudukan Bissu ini dalam kebudaan bugis sebenarnya tidak demikian.

Keunikan lain dari para Bissu itu sendiri bisa dilihat pada setiap musim tanam, kelompok Bissu selalu jadi penentu yang lebih baik, dibanding para pakar pertanian. Ritual ini di namakan mappalili atau ritual mencuci benda bersejerah Bissu. Kemudian dilanjutkan dengan warga untuk turun ke sawah. Seolah menjadi kepercayaan warga, mereka tidak boleh turun ke sawah sebelum para bissu ini menggelar ritual mappalili. Juga pada saat menangani orang yang sakit. Bissu berperan menjadi sandro (pengobat). Kita juga mengenal, mereka itu adalah orang yang kebal dan tak mempan dengan tusukan keris atau benda tajam lainnya.

Dimaknai masyarakat segeri, sebagai sebuah kesenian,dikenal dengan upacara “Mappalili”. Peristiwa itu adalah upacara sebelum memulai menanam padi,upacara tersebut telah dilaksanakan sekitar 3 minggu yang lalu. Puncak dari upacara disebut “Ma’giri” atau menusuk tubuh dengan keris.

Bagi orang asing yang ingin melihat dan ingin mengabadikan momen upacara adat itu, maka mereka di wajibkan untuk meminta izin terlebih dahulu. Namun meminta izin tersebut bukan ditujukan untuk orang atau atasan di tempat itu. Namun, meminta izin itu harus di pandu oleh ketua / pemimpin Bissu. Orang yang ingin meminta izin itu harus masuk ke dalam suatu ruangan dengan didampingi oleh Puang Matoa atau pimpinan Bissu. Di dalam ruangan berukuran satu kali empat meter itu, hanya terlihat kain berwarna merah yang membalut dinding ruangan tersebut. Di dalam ruangan terlihat asap dari dupa – dupa yang terbakar. Setelah Puang Matoa membaca mantra – mantra maka selesailah prosesi permintaan izin untuk mengabadikan

Bissu sendiri memahami, pembawaan mereka yang terkesan ” sakti ” itu, adalah keajaiban yang diturunkan dewata. Makanya, mereka harus suci dan tidak kawin. Mereka semua adalah kaum waria, dalam artian mereka itu harus menjaga kesuciannya. Dalam kitab La Galigo, Bissu dianggap sebagai manusia suci atau keturunan para Dewa. Dalam struktur kerajaan di Sulawesi Selatan, Bissu adalah penasihat spiritual dan rohani para raja. Begitu pentingnya figur Bissu bagi masyarakat ini, sehingga dalam upacara ritual yang mereka laksanakan Bissu dijadikan sebagai pemimpinnya. Diantara bentuk upacara yang kini masih tersisa adalah Mappeca Sure dan Masongka Bala, yakni upacara memohon keselamatan bagi seluruh warga masyarakat dan para pemimpin kerajaan. Ritual Massongka Bala adalah ritual yang sudah lama sekali. Sejak adanya manusia, sejak itu pula Massongka Bala diadakan dan yang memimpin acara Massongka Bala itu adalah golongan Bissu. Dalam sejarahnya, Bissu menentukan waktu upacara yang diilhami wahyu dari Tuhan yang disebut istilah eppa sulapa ipasabbi pole yawa pole yase. Disini Bissu menjadi perantara antara manusia dengan Tuhan.

“TARIAN MABBISSU”


A.Selayang pandang

Makna kata dari Mabbissu ini berasal dari kata “ma” yang artinya tarian dan bissu berasal dari kata bessi yang bermakna bersih atau suci dan kuat. Sedangkan bissu sendiri mempunyai makna karena tidak haid, tidak berdarah, atau suci.Dikatakan tidak berdarah karena bissu kebal terhadap senjata tajam,tidak mampu ditembus keris ,parang atau timah panas.
Oleh karenanya dalam kesenian ini, para Bissu selalu mempertontonkan kesaktian mereka dalam bentuk tari yang disebut dengan Mabbissu atau Tari Bissu.

Biasanya, Ritua tari Mabbissu ini selalu dilaksanakan oleh 6 orang Bissu dengan dipimpin oleh ketua Bissu di Segeri.Untuk melangkapi proses pertunjukannya, keenam Bissu tersebut berdandan seperti layaknya perempuan dengan berpakaian warna keemasan dan badik di pinggang.

Kemudian,dengan diiringi tabuhan gendang yang berirama khas, sambil para bissu ini melantunkan alunan mantra mistis dengan berbahasa To Rilangi yang merupakan bahasa kuno orang Bugis. sambil menari mengitari Arajangnge yakni sebuah benda yang dikeramatkan dan diyakini sebagai tempat ruh leluhur beristihat.

Di depan Arajangnge itu pun disiapkan berbagai sesaji, mulai dari kue-kue tradisional Bugis, buah, ayam sampai kepala kerbau dan sapi sebagai bentuk persembahan kepada leluhur mereka.

B.Keistimewaannya

Prosesi puncak dari ritual tarian ini adalah adanya nagiri atau menusuk-nusuk tubuh mereka dengan badik, sehingga tari ini juga disebut dengan Maggiri, karena nagiri berarti menusuk, yang ditambahkan dengan awalan “ma” didepannya yang berarti tarian.

Saat gerakan maggiri ini diperagakan, kita dapat menyaksikan para Bissu itu menusuk telapak tangan maupun leher mereka dengan badik yang runcing dan tajam, namun tidak terluka sedikit pun, walaupun dilakukan berkali-kali dengan sekuat tenaga.

Peragaan ini akan berlanjalan dengan lancar, jika ada persyaratan dalam tarian ini terpenuhi. Namun jika tidak terpenuhi, maka badik tersebut akan menembus tubuh mereka.

Saat alunan musik gendang semakin keras dan cepat, maka gerakan para Bissu ini semakin pelan dan mulai trans atau kehilangan kesadaran.

Pada saat kehilangan kesadaran inilah, para Bissu mulai memeragakan gerakan maggiri. Para penari akan melepaskan keris panjang yang terselip dipinggang, kemudian menusukkannya ke telapak tangan, perut, dan tenggorokan mereka.

Tujuannya dari gerakan ini adalah untuk menguji apakah roh leluhur/dewata yang sakti sudah merasuk ke dalam diri mereka. Apabila kebal terhadap senjata tajam, berarti penari telah dirasuki oleh roh leluhur mereka yang dipercaya dapat memberikan berkat.

Namun sebaliknya, apabila badik itu menembus dan melukai tubuh mereka, berarti yang merasukinya adalah roh lemah atau bahkan yang terjadi adalah para penari ini tidak dirasuki roh leluhur sama sekali.

By dyanchiby Posted in SEGERI

ASAL USUL KEHADIRAN “BISSU”


Tidak ada yang bisa menjelaskan secara akurat tentang asal usul kehadiran Bissu di Sulawesi Selatan. Kita hanya dapat meramalkannya dari legenda – legenda masyarakat. Menurut seorang Bissu Saidi Puang Matoa Karaeng Sigeri, kedatangan Bissu dapat di ketahui dari kitab Sure’ La Galigo. Di dalam kitab ini dikatakan bahwa keberadaan Bissu dalam sejarah manusia Bugis dianggap sezaman dengan kelahiran suku Bugis itu sendiri.

Ketika Batara Guru sebagai cikal bakal manusia Bugis dalam sure’La Galigo, turun ke bumi dari dunia atas ( botinglangik) dan bertemu dengan permaisurinya We Nyili Timo yang berasal dari dunia bawah (borikliung), bersamaan dengan itu turun pula seorang Bissu pertama bernama Lae-lae sebagai penyempurna kehadiran leluhur orang Bugis tersebut.
Melalui perantara bissu inilah, para manusia biasa dapat berkomunikasi dengan para dewata yang bersemayam di khayangan.

Bissu adalah pendeta agama Bugis kuno pra-Islam. Bissu dianggap menampung dua elemen gender manusia, yaitu laki – laki dan perempuan ( hermaphroditic beings who embody female and male elements). Selain itu Bissu juga mampu mengalami dua alam; alam makhluk dan alam roh (Spirit). Alam makhluk yaitu keberadaan Bissu yang ada di dunia nyata. Sedangkan alam roh ( Spirit ) yaitu keberadaan Bissu yang bisa berkomunikasi dengan para dewa. Ini dilakukan oleh para Bissu hanya pada saat ritual – ritual dilakukan.

Ketua para Bissu adalah seorang yang bergelar Puang Matowa atau Puang Towa. Secara biologis, sekarang, bissu kebanyakan diperankan oleh laki-laki yang memiliki sifat-sifat perempuan (wadam) walau ada juga yang asli perempuan, yang biasanya berasal dari kalangan bangsawan tingkat tinggi, walau tidak mudah membedakan mana bissu yang laki-laki dan mana bissu yang perempuan. Dalam kesehariannya, bissu berpenampilan layaknya perempuan dengan pakaian dan tata rias feminim, namun juga tetap membawa atribut maskulin, dengan membawa badik misalnya.

Dalam pengertian bahasa, bissu berasal dari kata bugis; bessi, yang bermakna bersih. Mereka disebut Bissu karena tidak berdarah, suci (tidak kotor), dan tidak haid. Ada juga yang menyatakan bahwa kata Bissu berasal dari kata Bhiksu atau Pendeta Buddha, sebagaimana diungkapkan oleh C Pelras dalam Manusia Bugis, hal 68, sebagai salah satu bentuk pengaruh bahasa Sansekerta dalam bahasa Bugis. “ Tentang agama Buddha sendiri, beberapa sanak-saudara saya yang tinggal di Sengkang mengaku masih menganut agama Buddha ini, yang dikatakan sebagai agama mula-mula orang Bugis. Mereka masih melakukan ritual keagamaan tersendiri, walau saya belum melakukan perbandingan dengan ritual agama Buddha yang dilakukan oleh umumnya masyarakat Buddha di Indonesia“ . Juga ada bukti sejarah yang memperkuat fenomena ini, misalnya penemuan Arca Buddha bercorak Amarawati di Sempaga di pantai Sulawesi Selatan yang berasal dari abad II Masehi. Ditengarai bahwa para pendeta Buddha, Biksu ini ‘menumpang’ kapal-kapal dagang India menuju perairan Nusantara.

Dalam struktur budaya bugis, peran Bissu tergolong istimewa karena dalam kehidupan sehari-hari dianggap sebagai satu-satunya operator komunikasi antara manusia dan dewa melalui upacara ritual tradisionalnya dengan menggunakan bahasa dewa/langit ( basa Torilangi), karenanya Bissu juga berperan sebagai penjaga tradisi tutur lisan sastra Bugis Kuno sure’ La Galigo. Apabila sure’ ini hendak dibacakan, maka sebelum dikeluarkan dari tempat penyimpanannya, orang menabuh gendang dengan irama tertentu dan membakar kemenyan. Setelah tabuhan gendang berhenti, tampillah Bissu mengucapkan pujaan dan meminta ampunan kepada dewa-dewa yang namanya akan disebut dalam pembacaan sure’ itu. Bissu juga berperan mengatur semua pelaksanaan upacara tradisional, seperti upacara kehamilan, kelahiran, perkawinan ( indo’ botting), kematian, pelepasan nazar, persembahan, tolak bala, dan lain-lain.

Sumber : Pengetahuan (menambah ilmu meningkat derajat)